Terorisme tidak dimonopoli oleh agama dan juga mazhab tertentu


Beberapa tahun ini di tengah-tengah kaum muslimin di indonesia ramai dibicarakan soal relevansi antara mazhab tertentu yakni mazhab wahabi salafi dengan aksi-aksi terorisme di dunia dan khususnya di indonesia.


Kami pikir penyematan relevansi mazhab wahabi salafi dengan paham terorisme tidaklah benar. Hal ini bisa dilihat dengan bukti-bukti yang bersifat ilmiah maupun faktual. Secara ilmiah, bisa kita lihat dalam kitab-kitab karangan 'ulama mainstream yang jadi rujukan mereka seperti Syaikhul islam Ibnu Taimiyah, Ibnul qayyim Al Jauzi, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, Syaikh bin Baaz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Al Albani dan lainnya ternyata isinya sesuai dengan ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang tawasuth (pertengahan), tidak keras dan juga tidak lembek (proporsional Antara teks dan kontekstual) dan menunjukkan adanya ajaran haus darah dengan gara-gara kekerasan sebagaimana yang dilakukan oleh para teroris. Bahkan ulamanya gencar memerangi paham terorisme baik lewat tulisan maupun ceramah-ceramahnya. Adapun perbedaan pendapat antara wahabi salafi dengan muslim lainnya ini adalah hal yang lumrah terjadi di kalangan para ulama sejak dahulu kala selama perbedaannya itu menyangkut khilafiyah (perbedaan cabang bukan pokok).


Begitu pula secara faktual, bahwa penganut paham wahabi salafi di dunia sudah ada ratusan juta jumlahnya dan khusus di indonesia kurang lebih ada puluhan juta dan tersebar hampir di seluruh propinsi khususnya di pulau jawa dan sumatra. Dari sekian puluhan juta ini faktanya terorisme yang dilakukan oleh teroris di indonesia yang mempunyai irisan (sebagian kesamaan) dengan paham wahabi salafi hanya puluhan yang sudah melakukan aksi dan ribuan yang hanya terpapar pengaruh paham terorisme.


Ini artinya dengan tidak sebandingnya antara jumlah pelaku teror dengan jumlah penganut wahabi salafi maka tidak bisa dibuat kesimpulan sepihak.


Fakta lain yaitu negara arab saudi, kuwait, yordania, uni emirat arab yang dikenal sebagai negara mayoritas wahabi salafi ternyata kejadian aksi teror disana sangat rendah dan bahkan jangankan soal terorisme soal tingkat kejahatan saja disana itu jauh lebih rendah ketimbang di indonesia yang merupakan negara mayoritas syafi'iyah-sufiyah.


Jadi hendaknya seorang muslim jangan membeo dengan cara pandang sebagian besar bangsa barat yang keliru soal islam yang menyatakan bahwa islam adalah ajaran Terorisme, lalu kemudian ada yang mengkhususkan bahwa wahabi salafi adalah ajaran terorisme. Ingatlah bahwa kolonialisme (penjajahan) yang lebih kejam dari terorisme yang dilakukan oleh bangsa barat terhadap bangsa-bangsa asia, afrika dan amerika selatan bukan oleh penganut agama islam. Begitu juga teror (cara-cara kekerasan) yang dilakukan oleh Taliban di afghanistan di tahun 90-an (baku hantam antar faksi) bukan dari wahabi salafi.


Begitu pula saat berbicara soal relevansi NU (salah satu organisasi bermazhab syafi'iyah-sufiyah) dan penyebaran paham liberalisme di indonesia yang dilakukan oleh banyak pengamat eksternal maupun internal NU sendiri, tidaklah benar bawah NU sama dengan liberalisme sebab secara ilmiah dan faktual NU bukanlah ajaran yang beririsan banyak dengan ajaran liberalisme dan jika pun saat ini ada ajaran yang beririsan maka itu tentu saja dilakukan oleh oknum yang bekerja secara masif dan sistemik.


Kesimpulannya adalah terorisme tidak dimonopoli oleh agama tertentu dan juga oleh mazhab tertentu. Terorisme dilakukan oleh oknum atau kelompok yang memang keliru dalam memahami agama dan kemanusiaan.


Wallohulmusta'an

Komentar